Freedom Palestine

British Football Clubs

Jumat, 30 November 2012

Mengungkap Misteri Hilangnya Bangsa Viking di Greenland


Hilangnya mereka bukanlah disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang dingin.

viking,laut(thinkstockphoto)
"Tidak ada yang menunjukkan bahwa (bangsa Skandinavia) atau orang Norse menghilang sebagai akibat bencana alam. Andaipun terjadi, mungkin karena mereka telah bosan dengan makan anjing laut di ujung dunia," kata Niels Lynnerup dari University of Copenhagen, Denmark, yang menjabarkan mengenai misteri menghilangnya bangsa Skandinavia dari Greenland.
Lynnerup menambahkan, hal ini mengindikasikan bahwa kaum muda pada khususnya, meninggalkan Greenland. Mengakibatkan menurunnya jumlah perempuan produktif dan kondisi ini tak mendukung pertumbuhan populasi.
Hasil analisa temuan kerangka bangsa Viking -suku bangsa dari Skandinavia yang berprofesi sebagai petani, pedagang, dan paling terkenal sebagai perompak- mengungkapkan bahwa 80 persen dari makanan yang mereka konsumsi adalah aniing laut.

Temuan sekaligus membantu menjawab misteri hilangnya bangsa Skandinavia atau sering disebut kaum Norse yang bermukim di Greenland pada 500 tahun lalu. Hilangnya mereka bukanlah disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang dingin.
Dengan melakukan analisa rasio isotop karbon pada 80 tulang belulang milik bangsa Skandinavia, para peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar proporsi diet bangsa Viking berasal dari makanan laut. Dengan konsumsi anjing laut mencapai antara 50 hingga 80 persen pada abad ke-14.

"Meskipun secara tradisional bangsa Skandinavia dikenal sebagai petani, mereka mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan Kutub Utara dan memiliki kesempatan berburu dengan cara unik. Selama mereka bermukim di Greenland, bangsa ini mengonsumsi anjing laut secara bertahap," ungkap peneliti Jan Heinemeier dari Aarhus University.
Bangsa Skandinavia pada awal transplantasi membawa komoditas pertanian dan hewan domestik seperti sapi, domba, dan babi dari Islandia menuju Greenland. Namun, para pemukim memiliki tantangan baru ketika dihadapkan dengan kondisi kehidupan yang semakin keras. Juga menghadapi masa zaman es yang berujung kelaparan dan memaksa mereka menetap di tempat lain.
Peneliti lainnya yang juga seorang kurator di Museum Nasional Denmark, Jette Arneborg, menjelaskan, dari waktu ke waktu bangsa Viking semakin sedikit yang memelihara hewan. "Jadi identitas sebagai petani itu sebenarnya lebih mengarah pada gambaran mental diri daripada kenyataan yang sesungguhnya," kata Arneborg.
Hasil analisa lainnya dari kerangka bangsa Viking juga menunjukkan tanda bahwa perlahan-lahan bangsa ini mulai meninggalkan Greenland. Seperti bukti yang ditemukan pada kuburan yang ada sejak zaman menjelang akhir permukimam bangsa Skandinavia. Di mana menunjukkan bahwa wanita muda semakin sedikit ditemukan.
(Umi Rasmi. Sumber: Live Science)

Lima Mitos Salah Tentang Halloween


Halloweeen berasal dari Festival Samhain yang dirayakan orang Kelt zaman kuno sebagai perayaan akhir musim panen dalam kebudayaan Gael.

halloween,jack olantern,labuJack O'Lantern, labu yang diukir dengan wajah menyeramkan., jadi simbol tahunan perayan Halloween. (Thinkstockhoto)
Halloween merupakan tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober 2012 yang dirayakan terutama oleh warga Amerika Serikat. Halloween diidentikkan dengan setan, penyihir, dan hantu.
Biasanya dirayakan oleh anak-anak dengan menggunakan kostum yang menyeramkan. Lalu berkeliling dari pintu ke pintu di lingkungan rumah mereka sambil meminta permen atau cokelat sambil berkata "Trick or treat!". Ucapan ini dikonotasikan sebagai ancaman jika tidak memberi permen maka akan mereka jahili.
Asal muasal perayaan Halloweeen berasal dari Festival Samhain yang dirayakan orang Kelt zaman kuno sebagai perayaan akhir musim panen dalam kebudayaan Gael. Bangsa Gael percaya bahwa tanggal 31 Oktober pembatas dunia orang mati dengan orang hidup menjadi terbuka. Namun, ada beberapa mitos menganai Halloween yang salah kaprah.
1. Halloween dijadikan kesempatan bagi pelaku kejahatan untuk meracuni anak-anak
Sebuah kasus terjadi pada anak laki-laki berusia delapan tahun meninggal dunia karena dianggap mengonsumsi permen beracun saat perayaan Hallowen. Namun ternyata, permen tersebut sengaja diberikan oleh ayah korban demi mendapatkan uang asuransi jiwa sang anak. Ronald Clark O'Bryan, si ayah pembunuh, telah dieksekusi atas perbuatannya pada tahun 1984.
anak,halloween,kostumAnak-anak di Amerika Serikat merayakan Halloween dengan mengenakan kostum dan berkeliling meminta permen dan coklat di lingkungan sekitar. (Thinkstockphoto)
Namun, Halloween juga merupakan hari paling mematikan bagi pejalan kaki anak-anak. Berdasarkan data dari perusahaan asuransi State Farm, rata-rata 5,5 anak meninggal dunia karena ditabrak oleh kendaraan per tanggal 31 Oktober setiap tahunnya. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan rata-rata 2,6 kematian anak pada hari lainnya.
2.  Adanya kelompok pemburu anjing pitt Bulls di jalan
Sebuah pesan menyebar melalui sosial media pada bulan September lalu, yang memperingatkan bahwa setiap rumah wajib mengunci pintu rumah mereka pada 31 Oktober. Karena Halloween dinyatakan sebagai "Hari Pembunuhan Pit Bull Nasional." Pit bull merupakan salah satu ras anjing. Tapi akhirnya terbongkarlah aksi tersebut merupakan suatu tipuan.
3. Konsumsi belanja Hallowen dianggap hampir menyamai Natal
Konsumsi belanja perayaan Halloween dianggap hampir menyamai belanja Natal. Faktanya, berdasarkan data National Retail Federation, pengeluaran belanja Halloween hanya mencapai US$8 miliar. Jauh lebih rendah dibanding perkiraan belanja konsumsi Natal yang mencapai US$586,1 miliar pada tahun ini.
4. Halloween identikkan dengan pelanggaran seksual
Sama halnya dengan mitos kasus permen beracun, Halloween juga diidentikkan dengan tindakan kejahatan seksual dengan trick or trackers sebagai target. Namun, berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh jurnal Sexual Abuse pada tahun 2010, menyatakan tidak ada bukti kejahatan seksual pada anak di hari Halloween.
5. Vampir adalah nyata
Fisikawan dari University of Florida, Costas Efthimiou, menyatakan jika mitos mengenai vampir benar. Bahwa mereka akan menghisap darah seseorang dan si korban otomatis akan langsung menjadi vampir. Dengan asumsi jumlah penduduk dunia pada tahun 1600an berjumlah lima juta jiwa, maka dalam tenggat waktu 2,5 tahun seluruh penduduk dunia akan menjadi vampir. Namun, hingga saat ini hal itu terbukti hanyalah mitos.